Hobong, Papua – GNN. my. id Malam yang seharusnya menjadi saksi kelahiran dan harapan berubah menjadi duka mendalam bagi pasangan suami istri, Irene Sokoy dan Neil Kabey, di Kampung Hobong, Papua. Kisah tragis ini sekali lagi menyoroti minimnya akses dan fasilitas medis yang memadai di daerah terpencil.27/11/25
Irene Sokoy, yang dikenal sebagai Kader Posyandu dan Sekretaris PKK yang sehari-hari berdedikasi melayani kesehatan masyarakat, kini justru berjuang untuk nyawanya sendiri dan calon buah hatinya. Kontraksi hebat yang dialaminya mengisyaratkan bahwa waktu persalinan telah tiba, namun fasilitas medis terasa begitu jauh.
Dalam keputusasaan di tengah kegelapan, Neil Kabey, sang suami, melakukan upaya heroik. Ia mendayung sekuat tenaga perahu kecil mereka, membelah air yang dingin, membawa istrinya menuju secercah harapan: rumah sakit. Dalam setiap kayuhan dayungnya, terselip doa dan janji untuk masa depan.
Namun, harapan itu harus pupus. Teks tersebut menyebutkan, “yang mereka temui bukanlah uluran tangan, melainkan pintu-pintu besi yang…” mengindikasikan adanya kendala besar, kemungkinan besar berupa penolakan atau keterlambatan akses di rumah sakit yang mereka tuju.
Kisah Irene Sokoy, seorang pejuang kesehatan di desanya sendiri, yang harus kehilangan nyawa saat membutuhkan pertolongan, menjadi tamparan keras bagi realitas kesehatan di Tanah Papua, di mana akses cepat dan layak sering kali menjadi pertaruhan hidup dan mati.
Editor:Anwar



















