JAKARTA —GNN Dunia maya kembali geger setelah peretas dengan nama samaran Bjorka mengklaim telah membocorkan data pribadi 341 ribu personel Polri. Aksi ini diduga merupakan bentuk protes terhadap dugaan salah tangkap seseorang yang disebut sebagai “Bjorka palsu”.7/10/2025
Kronologi Kebocoran
Pada 4 Oktober 2025, akun Bjorka mengunggah data anggota Polri ke situs NetLeaks. Data tersebut berisi nama lengkap, pangkat, satuan tugas, nomor HP, email, dan lokasi kerja para personel.
Banyak pihak menilai, aksi ini merupakan “balasan” atas langkah Polri yang sebelumnya mengumumkan telah menangkap sosok yang diklaim sebagai Bjorka. Namun, berdasarkan analisis pakar siber, orang yang ditangkap itu bukanlah peretas asli, melainkan peniru.
Ahli keamanan siber Alfons Tanujaya menyebut, data yang dibocorkan terlihat valid meski kemungkinan berasal dari periode lama, sekitar tahun 2016–2017. Artinya, sebagian personel yang tercantum mungkin sudah tidak aktif lagi di institusi Polri.
Respons Kepolisian
Polda Metro Jaya melalui Divisi Humas menyatakan sedang menelusuri dugaan kebocoran tersebut. Polisi juga meneliti keterkaitan berbagai akun yang mengaku sebagai Bjorka untuk memastikan siapa sosok asli di balik nama itu.
Hingga kini, Mabes Polri belum memberikan keterangan resmi terkait detail kebocoran maupun langkah hukum yang akan diambil.
Dampak dan Imbauan
Kebocoran data berskala besar ini menimbulkan kekhawatiran publik terkait keamanan siber lembaga negara. Para pakar menilai, insiden ini menunjukkan pentingnya audit menyeluruh terhadap sistem perlindungan data pemerintah.
Pakar siber juga mengingatkan, perlindungan data pribadi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga institusi negara yang wajib menjaga informasi aparat penegak hukum dari ancaman peretasan.
Anwar-GNN.my.id
