PESAN MORAL OPINI MALAM
OLEH:CATATAN PINGGIR JALAN
GNN.my.id-Ada pemandangan menarik di sebuah dapur Pelayanan gizi belakangan ini. Katanya, dapur itu didirikan untuk memperbaiki gizi rakyat.
Sebuah niat yang sangat mulia, seharum aroma bawang goreng yang tercium dari kejauhan. Namun sayang, semakin kita mendekat, bukan hanya aroma kaldu yang tercium, melainkan bau menyengat dari sebuah arogansi.
Sangat menggelitik melihat bagaimana sebuah dapur yang katanya “milik pribadi” dikelola dengan manajemen ala “kerajaan kecil”. Di sana, ada sepasang penguasa yang sepertinya salah kostum.kostum kebanggaanya sengaja di ganti sementara ala ala Dapur.
Resep Anti-Kritik
Di dapur ini, ada satu bumbu yang wajib ada: Kepatuhan Buta.
Jangan sesekali mencoba memberikan saran teknis agar masakan tidak gosong atau rasa lebih pas. Di mata sang “Nyonya” dan suaminya, saran dari pekerja bukanlah kontribusi, melainkan pemberontakan. Alih-alih ucapan terima kasih, para pekerja yang merupakan warga sekitar justru disuguhi menu tambahan berupa caci maki dan hidangan penghinaan.
Aneh, bukan? Memperbaiki gizi fisik rakyat, tapi merusak gizi mental karyawannya sendiri.
Alergi pada Kecerdasan
Ada fenomena psikologis yang unik di dapur tersebut.
Sang penguasa tampaknya memiliki alergi akut terhadap bawahan yang cerdas. Mungkin karena merasa terancam atau kalah kecerdasan dan mungkin juga karena cermin logika yang dibawa si karyawan menunjukkan betapa kosongnya panci pemikiran sang majikan.
Ketika argumen fakta dibalas dengan bentakan “Kamu itu siapa?”,berani mengutarakan aspirasi pada kami,kita tahu saat itu juga bahwa kapasitas intelektual sang penguasa sudah mencapai titik didih paling bawah.
Seringkali, orang yang paling keras berteriak adalah orang yang paling takut ketahuan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.
Kesimpulan yang Mengenyangkan
Kita harus mengingatkan para “Raja dan Ratu Dapur” ini: Dapur kita,pakai uang pribadi bukan uang pemerintah katanya,se olah jadi panggung sandiwara pribadi. Jika masakan dibuat dengan bumbu air mata dan rasa rendah diri pekerja, jangan harap gizinya akan sampai ke rakyat. Yang ada hanyalah racun sosial.
Ingatlah, tahta itu seperti nasi di dalam penanak—jika terlalu lama dipanaskan dengan api keangkuhan, dia akan menjadi gosong dan tak bisa dimakan. Pemimpin yang takut pada kecerdasan staf dan relawannya sebenarnya sedang membangun jalan menuju kegagalannya sendiri.
Satu pesan terakhir:
Jangan sombong, karena kompor yang paling panas sekalipun bisa padam hanya dengan satu siraman air kenyataan.red_Eza
