SURABAYA— GNN.my.id Aliansi Madura Indonesia (AMI) menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk stigmatisasi yang mengaitkan suatu peristiwa dengan identitas suku atau komunitas tertentu. Penegasan ini disampaikan menyusul mencuatnya sejumlah kasus viral yang memicu generalisasi negatif terhadap masyarakat Madura.29/12/25
Ketua Umum DPP AMI, Baihaki Akbar, menegaskan bahwa tindakan oknum tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi satu suku maupun kelompok masyarakat secara luas.
Menurutnya, satu peristiwa tidak boleh mencederai martabat jutaan masyarakat Madura yang hidup taat hukum dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami menolak keras stigma yang menyudutkan suku atau komunitas tertentu akibat perbuatan oknum. Orang Madura tidak identik dengan kekerasan, apalagi tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan,” tegas Baihaki.
Ia menjelaskan, masyarakat Madura memiliki nilai budaya yang kuat, menjunjung tinggi adab, penghormatan terhadap orang tua, serta prinsip kemanusiaan. Oleh karena itu, publik diimbau untuk menyikapi setiap peristiwa secara proporsional dan tidak emosional.
AMI juga menegaskan posisinya sebagai organisasi masyarakat yang konsisten berada di jalur konstitusional dan berperan sebagai penyeimbang sosial. Dalam mengawal isu hukum dan keadilan, AMI memilih pendekatan institusional serta menolak cara-cara provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Selain itu, AMI tercatat aktif mendukung program Badan Narkotika Nasional (BNN), khususnya dalam upaya pencegahan dan pembinaan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan. Organisasi ini juga pernah menjadi narasumber Mabes Polri dalam sejumlah isu strategis nasional.
Menutup pernyataannya, AMI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memisahkan secara tegas antara perbuatan oknum dan identitas suku, serta mempercayakan penyelesaian setiap persoalan kepada mekanisme hukum yang berlaku demi menjaga persatuan dan ketertiban sosial.
Editor:Arya



















