Wisata

Gua Payudan Guluk-Guluk Sumenep, Ketika Sejarah dan Spiritualitas Menyatu dalam Hening

SUMENEP-GNN.my.id Di kaki Pegunungan Payudan, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah gerbang tua berbalut cat putih dan merah. Dari kejauhan ia tampak sederhana, namun bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di bawahnya, gerbang itu adalah pintu menuju ruang waktu menghubungkan masa kini dengan jejak mistik para leluhur.27/8/2025

Gerbang itu membawa langkah kita menuju Gua Payudan, situs yang diyakini sebagai tempat pertapaan para raja Sumenep sejak abad ke-14 hingga abad ke-18. Bukan hanya situs sejarah, gua ini adalah ruang sunyi yang menyimpan getaran spiritual begitu kuat, hingga banyak peziarah percaya setiap dindingnya masih memantulkan doa dan laku prihatin para bangsawan masa silam.

Babad Songenep mencatat, Potre Koneng, putri Pangeran Soccadiningrat II, pernah melakukan tirakat di gua ini. Dalam sunyi gua, kisahnya bersentuhan dengan misteri: ia dipertemukan secara gaib dengan Adi Poday, Raja Sepudi, dan dari peristiwa batin itu lahirlah Pangeran Jokotole – raja besar Sumenep yang kesaktiannya melegenda, menaklukkan Blambangan, sekaligus menantu Raja Majapahit.

Jejak spiritual di Gua Payudan tak berhenti di situ. Pangeran Jimat (1731–1744), Ke’ Lesap (1749–1750), hingga Bindara Saot (1750–1762) juga disebut pernah bersemedi di sini. Bahkan, cerita rakyat menuturkan bahwa Presiden Sukarno pernah menyepi di gua ini, seakan menegaskan bahwa Payudan adalah ruang lintas zaman tempat tokoh besar mencari kekuatan batin di tengah sepinya doa.

Gua Payudan terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berupa pelataran luas, lantai kedua menyerupai ruang tamu, sementara lantai ketiga diyakini sebagai tempat ibadah.

Saya sendiri, sebagai penulis yang juga pencinta spiritual, merasakan setiap ruang gua itu hidup. Saat memasuki lantai pertama, udara lembab bercampur aroma tanah basah menghadirkan keteduhan. Di lantai kedua, keheningan lebih pekat, seakan menguji kejernihan hati. Dan pada ruang terakhir, lantai ketiga, energi gua terasa kian menguat dingin menusuk, tapi menenteramkan, seperti pelukan sunyi yang penuh cahaya.

Banyak peziarah datang sekadar berkunjung sehari, namun tak sedikit pula yang menetap berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan setahun penuh untuk menjalani tirakat. Mereka mencari kejernihan, berpuasa, atau berdoa dalam kesunyian yang nyaris abadi.

Kini, akses menuju Gua Payudan lebih mudah. Jalan sudah beraspal, tersedia area parkir, masjid, dan beberapa warung kecil. Meski begitu, aura sakral gua ini tetap terjaga. Tangga curam dan licin menuju pintu gua seakan menjadi “pagar gaib” hanya mereka yang sungguh-sungguh berniatlah yang mampu melangkah dengan hati yang tenang.

Di sela modernisasi, masyarakat setempat masih menjaga nilai spiritual gua. Gua Payudan tak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, melainkan juga magnet wisata batin, tempat orang-orang dari berbagai daerah datang mencari energi ketenangan.

Ketika senja turun, kabut tipis menyelimuti bukit Payudan. Di saat itu, saya merasakan keheningan yang berbeda – seolah dinding-dinding gua berbisik, menyampaikan doa-doa para raja yang pernah duduk bersila dalam gelap.

Bagi masyarakat Sumenep, Gua Payudan adalah sumur wahyu; tempat para raja mencari restu semesta, meneguhkan takdir, dan memelihara kekuatan batin. Dan bagi saya, perjalanan ke gua ini bukan sekadar liputan jurnalistik. Ia adalah ziarah batin – sebuah pengalaman yang mempertemukan logika sejarah dengan bisikan mistik, menyatukan tubuh, pikiran, dan jiwa dalam satu alunan sunyi.

Di Gua Payudan, waktu seakan berhenti. Hanya ada kita, keheningan, dan energi besar yang terus menyala, diwariskan dari generasi ke generasi, dari para raja kepada siapa saja yang datang dengan hati terbuka.

ANWAR-GNN-Global Nasional News

Exit mobile version